Caracas – Ledakan Guncang Caracas, sedikitnya tujuh ledakan keras terdengar di ibu kota Venezuela, Caracas, pada Sabtu pagi waktu setempat. Sejumlah pesawat dilaporkan terbang rendah di atas kota, memicu kepanikan warga. Pemerintah Presiden Nicolás Maduro menuduh Amerika Serikat (AS) berada di balik serangan yang disebut menyasar instalasi sipil dan militer, menyusul meningkatnya tekanan politik dan militer terhadap Venezuela dalam beberapa bulan terakhir.
Menjelang peristiwa tersebut, Administrasi Penerbangan Federal Amerika Serikat (FAA) mengeluarkan larangan penerbangan bagi maskapai komersial AS di wilayah udara Venezuela. FAA menyebut larangan itu diberlakukan karena adanya “aktivitas militer yang sedang berlangsung”. Hingga berita ini diturunkan, pemerintah AS belum memberikan pernyataan resmi terkait dugaan keterlibatan, target, maupun tujuan serangan.
Warga Panik, Listrik Padam di Sejumlah Wilayah
Ledakan-ledakan yang terjadi di Caracas membuat warga berhamburan keluar rumah. Sejumlah pengguna media sosial melaporkan mendengar suara dentuman keras disertai kilatan cahaya di langit. Hingga kini, belum ada laporan resmi mengenai korban jiwa.
Serangan yang diduga berlangsung kurang dari 30 menit itu menyebabkan sebagian wilayah ibu kota mengalami pemadaman listrik selama beberapa jam. Meski demikian, lalu lintas kendaraan dilaporkan masih dapat berjalan.
Asap hitam terlihat membubung dari hanggar salah satu pangkalan militer di Caracas, sementara beberapa instalasi militer lainnya dilaporkan mengalami gangguan kelistrikan.
“Seluruh tanah bergetar. Ini sangat mengerikan. Kami mendengar ledakan dan suara pesawat,” ujar Carmen Hidalgo (21), seorang pekerja kantoran, dengan suara gemetar. Ia mengaku merasakan tekanan udara akibat ledakan saat berjalan pulang bersama keluarganya.
Ketegangan AS–Venezuela Meningkat
Insiden ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan antara Washington dan Caracas. Pemerintahan Presiden Donald Trump diketahui terus memperkuat kampanye tekanan terhadap Maduro, yang telah didakwa di Amerika Serikat atas tuduhan terorisme narkotika.
Sumber menyebutkan bahwa CIA diduga berada di balik serangan pesawat nirawak (drone) di kawasan dermaga Venezuela pekan lalu, yang diyakini digunakan oleh kartel narkoba. Operasi tersebut disebut sebagai aksi langsung pertama AS di wilayah Venezuela sejak rangkaian operasi militer dimulai pada September lalu.
Selama beberapa bulan terakhir, Trump juga kerap mengancam akan memerintahkan serangan terhadap target di daratan Venezuela, menyusul penindakan terhadap kapal-kapal yang dituding membawa narkotika. Sementara itu, Presiden Maduro berulang kali mengecam operasi militer AS sebagai upaya terselubung untuk menggulingkan pemerintahannya.
AS Belum Beri Pernyataan Resmi
Hingga Sabtu siang, Pentagon mengarahkan permintaan konfirmasi kepada Gedung Putih, namun belum ada tanggapan resmi. Upaya menghubungi Komando Selatan AS (US Southern Command), yang bertanggung jawab atas operasi militer di kawasan Amerika Latin, juga belum membuahkan hasil.
Presiden Donald Trump dilaporkan tengah berada di klub pribadinya di Palm Beach, Florida, tempat ia menghabiskan waktu liburan selama dua pekan terakhir. Berdasarkan agenda publik, Trump dijadwalkan menerima briefing intelijen pada Jumat malam, beberapa jam sebelum ledakan terjadi. Namun hingga kini, ia belum memberikan pernyataan terbuka kepada media.
Situasi di Venezuela masih terus dipantau, sementara kekhawatiran akan eskalasi konflik regional semakin meningkat.